Kamis, 31 Januari 2019

Zona Nyaman #opinikevin

"Keluarlah dari zona nyaman", sebuah quotes yang sangat populer belakangan ini. Yang menjadi pertanyaan buat ku adalah, kalau udah nyaman ngapain harus keluar?

Umumnya zona nyaman dikaitkan dengan "rutinitas yang membosankan" yang bertentangan dengan passion kita. Jika zona nyaman adalah rutinitas membosankan apakah bisa dikatakan itu zona nyaman?, dan keluar dari zona nyaman diartikan pula mengejar passion, hidup yang sejalan dengan passion berarti bahagia, tetapi disaat passion nanti sudah menjadi rutinitas apakah itu juga akan menjadi "zona nyaman"? dan apakah kemudian akan menjadi membosankan. Setelah itu apa kita harus keluar lagi? Apa selanjutnya yang harus kita cari dan tuju?

Menurutku zona nyaman itu gak ada, atau mungkin ada tapi semu. Karena aku meyakini hidup itu sebuah pencarian, akan selalu ada hal baru yang kita temui. Berbicara tentang zona nyaman, bukankah itu tujuan semua orang?, kita bercita-cita, bermimpi, bersekolah setinggi mungkin yang adalah bagian dari tujuan kita agar memperoleh hidup yang nyaman. Tentu kita semua setuju tidak ada yang salah dengan itu semua, zona nyaman bukanlah kesalahan.

Tetapi zona nyaman mu hari ini belum tentu menjadi zona nyaman mu besok hari, karena zona nyaman yang sesungguhnya adalah pembelajaran dan pencapaian, dan akan selalu ada pembelajaran dan pencapaian yang baru tanpa henti selama kita hidup.

Jadi yang terpenting bukanlah perkara tinggal ataupun keluar dari zona nyaman mu, tapi apakah kamu berkembang bersama zona nyaman mu itu.

Jika kalian punya pendapat lain? Mungkin bisa share di kolom komentar.
Share:

Rabu, 13 Juni 2018

Komtemplasi Waktu #PUISI7

Waktu itu semu
dia berbahasa
menjelaskan banyak makna
Tentang rindu yang haru
hingga rasa yang palsu

Dan satu waktu
Kamu dan temu menjadi satu
Jabat tatap bincang yang seru
menjadi pembuka dikala buntu
sekali lagi hanya waktu yang tau

Aku tak pernah resah menunggu
menanti pula tak henti
walaupun aku ku dan waktu beradu
tapi percaya aku tak ragu

Waktu pasti membawakan arti
Aku dan kamu
Share:

Senin, 02 April 2018

#KEVINTALKS fenomena hypebeast

                            Hasil gambar untuk hypebeast gif





Pernah dengar fenomena hypebeast? Oke buat yang belum tau, gue coba jelasin sedikit dengan pengetahuan awam tentang hal ini. Pada awalnya hypebeast adalah sebuah website (hypebeast.com), sebuah portal yang mengulas tentang brand-brand fashion / clothing. Buat yang masih penasaran bisa kunjungi sendiri websitenya untuk tau lebih detail. Namun makin kesini hypebeast berubah makna menjadi sebuah istilah slang. Hypebeast secara definisi seseorang yang senantiasa mengikuti tren agar tetap in style, seseorang yang mengenakan item fesyen yang sedang hype. Well, hypebeast adalah slang untuk seseorang yang terobsesi (beast) dalam hal hype (pada fesyen) dan akan melakukan segala cara untuk bisa mencapai hype. Berikut beberapa brand yang identik dan disebut hypebeast : Supreme, Palace, Bape, Off-White, Balenciaga, dan lain-lain.

Ada beberapa opini dari sudut pandang sotoy gue tentang fenomena ini. Yang pertama adalah bagaimana luar biasa kerennya branding yang dilakukan sehingga produk yang ditawarkan bisa bernilai jual fantastis. Contoh, bagaimana Supreme bisa menjual produknya dengan harga hingga pulahan juta (Rp), even mereka menjual produk yang diluar jalur dari produk yang seharusnya mereka jualpun produk itu masih laku, walau dengan harga yang gak masuk diakal, seperti batu bata, linggis, helm, hingga palu. Pada tahun 2015 lalu, sekelompok anak-anak muda pun rela mengantri 2 hari untuk membeli linggis keluaran Supreme. Linggis bercat merah dengan cetakan huruf Supreme putih ini, sekarang masih dihargai hingga Rp4,7 juta!


“Jika kita bisa menjualnya 600 pcs, maka kita akan memproduksinya 400 pcs, itulah cara kami”. ungkap James Jebbia, Founder Supreme. Menurutnya itu strategi pemasaran yang berpengaruh untuk membentuk ekslusif brand. Strateginya hanya membuat produk langka. Pemikiran-pemikiran seperti itu yang membuat gue salut, hingga akhirnya bukan hanya sekedar produk yang dijual, melainkan sebuah produk beserta identitas.

Selanjutnya dari fenomena ini ada sisi sensitif yang gue ambil. Gue sama sekali gak ada masalah sama orang-orang yang senang membeli dan menggunakan produk-produk hypebeast ini, ya mungkin juga gue belum sampe pada posisi financial yang terlampau tinggi, sehingga untuk mengkonsumsi produk hypebeast yang seharga langit itu bukan masalah apa-apa, mungkin. Ini akan terdengar klise, namun ini adalah dasar yang gak bisa kita abaikan, tau skala keinginan dan kebutuhan. Bagi beberapa orang mungkin produk mahal atau produk bermerek sudah menjadi kebutuhan, tapi kita juga perlu tau nilai kebutuhan apa yang ada didalamnya, dari kacamata gue nih ya didalamnya adalah kebutuhan pride, dan kebutuhan pengakuan sosial, sehingga itu mendatangkan kepuasan bagi seseorang. Ohh lagi-lagi hasilnya adalah tentang emosi, kepuasan dan kebahagian.

Banyak dari kita yang kurang mencermati bahwa sesungguhnya nilai yang baik, sehat, untuk kita merasa bahagia dan puas didapatkan secara internal (diri sendiri). Contoh:

Nilai yang baik: kejujuran, menerima diri, rasa ingin tahu, kerendahan hati.
Nilai yang buruk: menjadi pusat perhatian, disenangi semua orang, tidak mau kesepian.

Semua nilai yang baik dan sehat berasal dari diri sendiri, bukan dari oranglain. Walau keduanya sama-sama memberikan kepuasan secara emosi, tapi yang membedakan adalah jangka waktu, prioritas dengan nilai buruk memberi kita kepuasan emosi yang bias dan semu. Pertanyaannya sekarang adalah, apa yang menjadi prioritas lo? Nilai apa yang ingin lo prioritaskan? Karena semua itu mempengaruhi dalam setiap proses pengambilan keputusan lo. 

Dan yang terakhir adalah cara pandang orang-orang yang menilai keren adalah dengan mengkonsumsi sesuatu. Coba rubah cara pikir, buat pertanyaan bagaimana produk keren ini bisa dibuat?. Pelajari hal itu, keren bukan tentang menggunakan dan mengkonsumsi sesuatu, tapi meciptakan sesuatu!

Share: